
Komparatif.ID, Banda Aceh— Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) mencatat Aceh kehilangan tutupan hutan seluas 39.687 hektare sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat lebih dari 274 persen dibandingkan 2024 dan menjadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Temuan ini dipaparkan Manager GIS HAkA, Lukmanul Hakim, dalam diskusi bertajuk “Kehilangan Tutupan Hutan dan Dinamika Risiko Bencana di Aceh” yang digelar di Banda Aceh, Rabu (25/2/2026).
Dalam pemaparannya, Lukmanul menyebut terdapat tiga kabupaten dengan kehilangan tutupan hutan tertinggi sepanjang 2025, baik akibat faktor alami maupun antropogenik (aktivitas manusia). Ketiganya secara kumulatif menyumbang porsi signifikan dari total kehilangan tutupan hutan Aceh.
Kabupaten pertama adalah Aceh Timur dengan kehilangan tutupan hutan mencapai 8.564 hektare atau 21,6 persen dari total kehilangan hutan Aceh. Kehilangan ini didominasi oleh faktor alami sebesar 7.103 hektare, sementara tekanan antropogenik tercatat 1.431 hektare.
“Pertama, Aceh Timur, dengan kehilangan tutupan hutan mencapai 8.564 hektar (21,6%). Kehilangan ini didominasi oleh faktor alami sebesar 7.103 hektare, namun tekanan antropogenik juga tercatat signifikan sebesar 1.431 hektar,” ujarnya.
Baca juga: HAkA: Aceh Kehilangan 39.687 Hektare Tutupan Hutan Sepanjang 2025
Kabupaten kedua adalah Aceh Tengah yang mencatat kehilangan tutupan hutan sebesar 6.910 hektare atau 17,4 persen. Dari jumlah tersebut, 5.525 hektare dipicu faktor alami dan 1.385 hektare akibat aktivitas manusia.
Tekanan kehilangan tutupan hutan di wilayah ini banyak terjadi di kawasan pegunungan dan daerah hulu, yang berpotensi memperbesar risiko gangguan hidrologis di wilayah hilir.
Sementara itu, Gayo Lues berada di posisi ketiga dengan kehilangan tutupan hutan sebesar 6.773 hektare atau 17,1 persen. Sebagian besar kehilangan di wilayah ini berasal dari faktor alami sebesar 6.501 hektare.

Secara keseluruhan, kehilangan tutupan hutan Aceh pada 2025 terdiri dari 24.372 hektare atau 61,5 persen akibat faktor alami. Faktor ini dipicu proses seperti longsor, banjir, dan pelebaran alur sungai. Mayoritas kejadian tercatat pada November hingga Desember 2025 akibat bencana hidrometeorologis yang dipicu Siklon Senyar.
Sementara itu, kehilangan akibat faktor antropogenik mencapai 15.230 hektare. Dari jumlah tersebut, ekspansi perkebunan menyumbang 13.000 hektare atau 32,8 persen. Kehilangan ini terjadi baik dalam skala besar seperti pembukaan lahan dan penebangan habis dalam konsesi, termasuk kelapa sawit, maupun skala kecil berupa pertanian rakyat dan komoditas budidaya lainnya.
Pembukaan dan pembangunan jalan menyumbang 1.007 hektare atau 2,5 persen, yang umumnya berkaitan dengan aktivitas logging, pertambangan, dan ekspansi perkebunan. Sektor pertambangan tercatat menyebabkan kehilangan 796 hektare atau 2 persen, sedangkan logging menyumbang 428 hektare atau 1,1 persen.
Lukmanul menjelaskan identifikasi driver kehilangan tutupan hutan dilakukan secara visual melalui perbandingan mosaik citra bulanan atau time series, serta didukung data tambahan seperti batas konsesi, sungai, topografi, dan layer tematik lainnya.
Ia menjelaskan perkebunan umumnya terdeteksi berada di tepi hutan atau sebagai ekspansi dari bukaan lama dengan pola teratur. Tambang dominan berada di sekitar sungai, ditandai kubangan dan perubahan warna tanah.
Logging terlihat berupa bukaan kecil yang tersebar dan tidak beraturan. Jalan teridentifikasi melalui pola linier mengikuti akses yang kerap terkait aktivitas perkebunan, tambang, atau logging. Faktor alami didominasi longsor di lereng curam yang banyak terdeteksi pada citra November hingga Desember.












