
Pidie Jaya berhadapan dengan ujian alam yang tidak hanya merusak ruang hidup, tetapi juga mengguncang ketenangan warganya. Di tengah situasi seperti ini, bencana tidak pernah berdiri sendiri sebagai peristiwa fisik semata. Ia selalu membawa dampak sosial, psikologis, dan kemanusiaan yang panjang.
Rumah rusak, dapur tak lagi mengepul, air bersih sulit dijangkau, dan hari-hari terasa berjalan lebih berat dari biasanya.
Namun, di sela kesedihan dan keterbatasan itu, selalu ada ruang kecil yang diisi oleh kepedulian. Dari ruang inilah harapan kerap tumbuh, meski perlahan dan sederhana.
Salah satunya (mungkin) melalui kedatangan mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Negara Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh yang melaksanakan Kuliah Pengabdian Masyarakat Tematik Kebencanaan di Pidie Jaya sejak Senin, 12 Januari 2026.
Kehadiran mereka bukan sekadar rutinitas akademik untuk memenuhi kewajiban kurikulum, tetapi menjadi bentuk kehadiran sosial di tengah masyarakat yang sedang berusaha bangkit.
Dalam konteks bencana, kehadiran sering kali lebih bermakna daripada sekadar bantuan materi. Datang, mendengar, dan bekerja bersama warga adalah pesan bahwa penyintas tidak sendirian menghadapi keadaan sulit ini.
Langkah para mahasiswa ini tidak berjalan sendiri. Mereka membangun kerja sama dengan Asar Humanity, sebuah Lembaga Amil Zakat Nasional yang telah lama terlibat dalam kerja-kerja kemanusiaan di Aceh.
Kolaborasi antara dunia akademik dan lembaga sosial ini menjadi contoh bagaimana solidaritas lintas sektor dapat bekerja secara nyata di lapangan.
Gampong Blang Awe, salah satu wilayah terdampak cukup parah, menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan, kepedulian, dan kebutuhan riil masyarakat. Sambutan hangat warga menjadi penanda bahwa bantuan, sekecil apa pun, memiliki arti besar ketika datang tepat waktu.
Aktivitas mahasiswa banyak berpusat di dapur umum, ruang yang mungkin tampak sederhana, tetapi memegang peran vital bagi keberlangsungan hidup warga terdampak.
Sejak pagi, mereka terlibat langsung dalam berbagai pekerjaan, dari mempersiapkan bahan makanan hingga membantu proses memasak. Tidak ada jarak antara mahasiswa dan warga. Mereka bekerja berdampingan dengan para ibu desa, berbagi cerita di sela kepulan asap dan suara peralatan dapur.

Dari situ, mahasiswa belajar bahwa bencana bukan hanya soal data dan laporan, melainkan tentang manusia yang berusaha bertahan dengan segala keterbatasan.
Baca juga: Air Mata yang Belum Kering di Langkahan
Keterlibatan tersebut tidak berhenti pada urusan memasak. Para mahasiswa juga ikut memastikan ketersediaan beras dan bahan pokok lainnya agar dapur umum dapat terus beroperasi.
Koordinasi sederhana dengan perangkat desa menjadi latihan bagaimana pengelolaan sumber daya publik bekerja dalam kondisi darurat. Apa yang selama ini dipelajari sebagai teori administrasi menemukan wujudnya dalam praktik yang sangat konkret.
Pada sore hari, kegiatan mahasiswa meluas ke distribusi bantuan langsung ke warga. Sebagian tim bersama relawan Asar Humanity menyalurkan makanan siap saji dari rumah ke rumah.
Mereka menyusuri lorong-lorong desa, memastikan setiap warga menerima makanan. Senyum para lansia dan anak-anak menjadi pemandangan yang membekas, sekaligus pengingat bahwa kerja kemanusiaan sering kali dibayar dengan rasa syukur yang sederhana.
Tim lainnya fokus pada distribusi air bersih, kebutuhan dasar yang kerap menjadi persoalan serius pasca-bencana. Dengan peralatan yang ada, air disalurkan ke tempat penampungan warga agar kebutuhan sanitasi tetap terjaga.
Pengalaman di Pidie Jaya ini menjadi ruang belajar yang tidak akan ditemukan di dalam kelas. Mahasiswa belajar tentang empati, kerja sama, dan tanggung jawab sosial dalam kondisi rill.
Bagi warga Gampong Blang Awe, kehadiran mereka menjadi tambahan tenaga dan semangat di tengah proses pemulihan. Sinergi antara mahasiswa, lembaga kemanusiaan, dan pemerintah menunjukkan bahwa beban berat akan terasa lebih ringan ketika dipikul bersama.
Dari Pidie Jaya, Kami pulang membawa pemahaman bahwa ilmu baru benar-benar bermakna ketika ia hadir dan bekerja untuk manusia.
Tulisan Muhammad Faza dan kawan-kawan yang tergabung dalam tim relawan mahasiswa angkatan 2023 Prodi Ilmu Administrasi Negara FISIP UIN Ar-Raniry.











