Anggaran MBG di Aceh Tembus Rp17 Miliar/Hari

Anggaran MBG di Aceh Tembus Rp17 Miliar/Hari
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya, saat menyampaikan keterangan pers usai konsolidasi pelaksanaan program makan bergizi gratis provinsi Aceh di Banda Aceh, Sabtu (17/1/2026). Foto: Komparatif.ID/Fuad Saputra.

Komparatif.ID, Banda Aceh— Pemerintah mengucurkan dana Rp17.179.800.000 per hari untuk kebutuhan program makan bergizi gratis (MBG) di Aceh dengan total penerima manfaat mencapai 1,7 juta orang.

“Kami catat 1,7 juta lebih penerima manfaat (MBG) di Aceh, ini yang setiap hari apabila indeks rata-rata Rp10.000 maka setiap hari itu akan ada Rp17.179.800.000 uang dari pemerintah dikucurkan untuk Aceh,” ungkap Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya, di Banda Aceh, Sabtu (17/1/2026).

Sony mengatakan untuk pembiayaan program tersebut di Aceh, pemerintah mengalokasikan anggaran tahunan yang nilainya mencapai sekitar Rp4,9 triliun.

Selain berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, program ini juga berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja. Saat ini tercatat ada 573 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Aceh, dengan jumlah tenaga kerja mencapai 28.650 orang.

“Apabila dalam sebulan mereka mendapatkan upah Rp2.200.000, artinya dalam satu bulan pemerintah memberikan uang Rp63.030.000.000 (untuk upah kerja),” lanjutnya.

Program MBG Sudah Merata

Dalam paparannya, Sony juga menyampaikan bahwa progres pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di Aceh terus berjalan. Dari total nasional sebanyak 20.880 SPPG yang telah terverifikasi dan operasional, sebanyak 553 SPPG berada di wilayah Aceh.

Keberadaan SPPG ini dinilai tidak hanya berfungsi dalam kondisi normal, tetapi juga responsif saat terjadi bencana. Ia mencontohkan, ketika banjir melanda sejumlah wilayah di Aceh, pada hari pertama beberapa SPPG langsung bergerak dan bahkan berfungsi sebagai dapur lapangan untuk melayani warga terdampak.

Baca juga: Cegah Inflasi, Menu Telur MBG Bakal Diganti Ikan Selama Ramadan

Sony menyebutkan penyebaran SPPG kini telah menjangkau wilayah terpencil, termasuk Pulo Aceh. Untuk daerah terpencil tersebut, program MBG memiliki skema 3T dengan perlakuan khusus, mulai dari penunjukan investor hingga proses pembangunan dan pembayaran oleh BGN sebelum operasional berjalan.

Ia juga memastikan program tetap berjalan di wilayah terdampak bencana, meskipun terdapat beberapa SPPG yang mengalami pengalihan lokasi.

Tercatat ada dua bangunan SPPG yang hanyut akibat bencana, dan pihaknya memberikan kesempatan kepada mitra terkait untuk membangun kembali fasilitas tersebut agar layanan dapat kembali berjalan.

“Ada dua bangunan, kalau tidak salah, yang memang hanyut, dan itu ya tentu kita berikan kesempatan lagi kepada mitranya untuk kembangun kembali,” ungkapnya

Lebih lanjut, BGN juga menekankan mitra untuk memperkuat rantai pasok bahan pangan lokal. Menurutnya, apabila bahan pangan tersebut masih didatangkan dari luar daerah, maka aliran dana yang seharusnya berputar di daerah justru mengalir ke wilayah lain.

Karena itu, ia mengimbau satgas di daerah agar mendorong pemberdayaan masyarakat melalui penguatan produksi lokal, termasuk dengan urban farming, vertical garden, maupun rooftop gardening.

“Karena itu kami imbau kepada Satgas tugas kedua adalah sekarang bagaimana penguatan rantai pasok, jangan bergantung terus ke daerah lain,” imbuhnya.

Artikel SebelumnyaSeorang Personel Brimob Polda Aceh Desertir, Jadi Prajurit Bayaran Rusia
Artikel SelanjutnyaWakil Kepala BGN: Keracunan MBG Karena SOP Tidak Dijalankan dengan Benar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here