Komparatif.ID, Jakarta— Produksi minyak sawit Indonesia dan Malaysia diperkirakan menurun pada 2027 akibat cuaca kering berkepanjangan yang dipicu fenomena El Niño. Kondisi tersebut diperkirakan menekan hasil panen di dua negara penghasil minyak sawit terbesar dunia sekaligus berpotensi memperketat pasokan global dan mendorong kenaikan harga.
Berdasarkan estimasi median dari tujuh analis, produksi minyak sawit Indonesia dan Malaysia pada 2027 diperkirakan turun sekitar 3 persen.
Produksi Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 49 juta ton, sementara Malaysia diperkirakan menghasilkan 19,5 juta ton.
Penurunan produksi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor. Selain cuaca kering yang berlangsung lebih lama, perluasan mandatori biodiesel berbasis sawit di Indonesia serta penurunan produktivitas akibat semakin banyaknya tanaman sawit berusia tua juga diperkirakan membatasi pasokan.
Tiga analis memperkirakan kondisi tersebut dapat mendorong harga acuan minyak sawit mendekati 5.000 ringgit per ton pada tahun depan. Perkiraan itu muncul di tengah kekhawatiran pasar terhadap dampak El Niño kuat terhadap produksi sawit di kawasan Asia Tenggara.
Pasar komoditas pertanian saat ini telah bersiap menghadapi dampak fenomena tersebut. Kondisi panas dan kering diperkirakan berlangsung lebih lama dari periode normal April hingga September di Indonesia.
Baca juga: El Niño Dimulai
Dampak cuaca terhadap hasil produksi sawit biasanya tidak langsung terlihat. Kondisi kering dapat memengaruhi tanaman dan hasil panen dengan jeda waktu, sehingga dampak El Niño terhadap produksi tahun depan baru berpotensi terlihat setelah periode cuaca ekstrem berlangsung.
Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memperkirakan musim hujan yang biasanya mulai berlangsung pada Oktober dapat mengalami keterlambatan hingga November atau Desember tahun ini. Musim hujan juga berpotensi berlangsung lebih singkat dari kondisi normal.
Dampak cuaca kering juga terlihat dari meningkatnya kebakaran lahan di Kalimantan, salah satu wilayah utama penghasil kelapa sawit.
Jumlah titik panas atau hotspot dilaporkan melonjak ke level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Kondisi tersebut turut mengganggu sejumlah aktivitas di perkebunan sawit, termasuk pemupukan, panen, dan transportasi.
