
Komparatif.ID, Banda Aceh— Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya, berbagai kejadian menonjol, termasuk kasus keracunan usai menyantap menu MBG terjadi karena SPPG tidak menjalankan SOP dengan benar.
“Kejadian menonjol (keracunan) terkait dengan konsumsi MBG itu terjadi, kembali lagi dasarnya adalah karena SOP yang tidak dilaksanakan dengan benar,” ungkapnya usai konsolidasi pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) Provinsi Aceh di Banda Aceh, Sabtu (17/1/2026).
Sony mencontohkan, saat bahan pangan seperti ikan dikirim, maka menjadi tanggung jawab Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memastikan bahan tersebut dalam kondisi baik dan diolah dengan cara yang benar.
Sony menjelaskan di setiap SPPG telah diatur penggunaan peralatan dapur yang berbeda sesuai peruntukannya. Peralatan tersebut tidak boleh dicampur dalam penggunaannya. Aturan ini, menurutnya, merupakan bagian dari SOP yang harus dijalankan secara konsisten untuk mencegah kontaminasi silang.
Ia mengatakan Badan Gizi Nasional memberikan penekanan serius agar seluruh pelaksana program mematuhi SOP. Dengan pelaksanaan SOP yang benar, Sony meyakini kejadian menonjol terkait MBG dapat dicegah.
Baca juga: Anggaran MBG di Aceh Tembus Rp17 Miliar/Hari
Selain aspek keamanan pangan, Sony juga menyinggung mekanisme pengelolaan anggaran dalam program MBG. Seluruh pembayaran kebutuhan, baik bahan pokok maupun operasional, dilakukan melalui virtual account. Sistem ini memungkinkan setiap transaksi tercatat dan dapat ditelusuri.
Sony memberikan contoh, apabila harga beras premium berdasarkan harga eceran tertinggi atau hasil survei pemerintah daerah adalah Rp16.000 per kilogram, namun dibayarkan Rp17.000 per kilogram, maka selisih tersebut akan tercatat dalam sistem.
Seluruh transaksi dalam virtual account tersebut akan menjadi objek audit pertama oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP). Apabila dalam audit APIP masih ditemukan masalah, maka penanganannya akan dilanjutkan oleh aparat penegak hukum.
“Pembayaran seluruh kebutuhan, baik bahan pokok, operasional, itu menggunakan virtual account. Ketika terjadi mark up itu akan tercatat di dalam virtual account, track-nya akan diketahui, dan itu yang pertama akan diaudit oleh APIP. Jika masih terjadi juga, maka itu (akan ditindak) APH,” lanjutnya.
BGN Tidak Alergi Kritik
Lebih lanjut, Sony mengajak masyarakat untuk ikut mengawasi pelaksanaan program MBG secara terus-menerus. Ia mendorong masyarakat untuk menyampaikan kritik apabila menemukan menu yang tidak layak, kualitas makanan yang buruk, atau makanan yang basi.
Menurutnya, BGN tidak alergi terhadap kritik dan justru membuka ruang pengawasan publik sebagai bagian dari upaya perbaikan berkelanjutan dalam pelaksanaan program MBG.
“Awasi terus-menerus. Menu-nya nggak bagus, protes, kritik. Menu-nya basi, kritik. Kami tidak alergi dengan kritik. Kritik kami terima, langsung lakukan perbaikan,” imbuhnya.











