BRIN Sebut Relokasi Korban Banjir Aceh Tamiang Setara Memindahkan Kota

Guru Besar Aceh Diminta Desak Presiden Tetapkan Banjir Aceh sebagai Bencana Nasional PDIP Dorong Banjir Sumatra Ditetapkan Sebagai Bencana Nasional Hak Atas Informasi Kebencanaan, Refleksi Bencana Hidrometeorologi Aceh Analis BRIN Sebut Relokasi Korban Banjir Aceh Tamiang Setara Memindahkan Kota
Rumah masyarakat rusak parah usai diterjang banjir bandang di Aceh Tamiang. Foto: ANTARA/Syifa Yulinnas.

Komparatif.ID, Jakarta— Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan hasil analisis awal dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang beberapa waktu lalu. Berdasarkan pemetaan sementara yang dilakukan, sekitar 58.000 bangunan di wilayah tersebut diduga terdampak banjir dengan sebaran yang sangat luas.

Ketua Gugus Tugas Penanggulangan Bencana BRIN, Joko Widodo, menyampaikan hasil tersebut diperoleh dari analisis citra satelit yang dilakukan oleh tim BRIN untuk melihat gambaran dampak banjir secara menyeluruh, khususnya pada kawasan permukiman.

“Hasil analisis dari BRIN ada 58.000 bangunan kemungkinan terdampak (bencana),” kata Joko di Jakarta melansir ANTARA, Sabtu (10/1/2026).

Menurut Joko, pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu alternatif yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan penanganan pascabencana.

Berdasarkan analisis sementara, Joko menyebut sekitar 90 persen wilayah Aceh Tamiang dapat dikatakan terdampak bencana. Namun demikian, ia menegaskan bahwa data tersebut masih bersifat sementara dan memerlukan validasi lebih lanjut.

Perbedaan metode pendataan antara analisis citra satelit yang digunakan BRIN dan pendataan lapangan oleh pemangku kepentingan lainnya menjadi alasan perlunya verifikasi lanjutan.

Baca juga: Bareskrim Usut Dugaan Pembalakan Liar Pemicu Banjir di Tamiang

Joko mengatakan saat pembahasan bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), opsi relokasi korban banjir di Aceh Tamiang bukanlah langkah yang mudah.

Ia menilai, jika relokasi dilakukan secara menyeluruh, maka upaya tersebut hampir setara dengan memindahkan sebuah kota. Hal ini disebabkan oleh karakteristik wilayah Aceh Tamiang yang berada di dataran banjir yang relatif datar dan dibelah oleh Sungai Tamiang, sehingga secara alami kawasan tersebut memang rentan terhadap banjir.

“Dalam pembicaraan itu kemudian kami sampaikan ‘Pak, untuk Aceh Tamiang, kalau kita merelokasi, kita akan seperti memindahkan kota, karena Aceh Tamiang itu memang di dataran banjir ya, flat plains. Kemudian, di tengahnya ada Sungai Tamiang yang lebar, daerahnya flat, jadi itu sebenarnya memang rentan banjir’,” ungkapnya.

Joko juga menggambarkan kondisi lapangan yang menurutnya memprihatinkan. Ia menyebut banyak rumah dengan lantai dan fondasi yang tergolong tinggi tetap tersapu banjir.

Bahkan, terdapat bangunan yang hilang tanpa menyisakan dinding, atap, maupun isi rumah, dengan cakupan wilayah terdampak yang sangat luas.

Selain relokasi, BRIN menyampaikan adanya opsi lain berupa rekayasa teknik atau engineering. Opsi ini diarahkan untuk menciptakan pembatas atau sistem pengendalian agar luapan Sungai Tamiang tidak langsung berdampak pada kawasan permukiman warga.

Artikel SebelumnyaAPDESI Bireuen Temui Bupati, Bahas Peran Mukim hingga PAD
Artikel SelanjutnyaWarga Kandang Samalanga Butuh Alat Berat Bersihkan Lumpur Sisa Banjir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here