Pentingnya Radioterapi untuk Pengobatan Kanker

Pentingnya Radioterapi untuk Pengobatan Kanker
dr. Rima Novirianthy, Sp.Onk.Rad. Dosen pada Fakultas Kedokteran USK dan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi di RSUD dr. Zainoel Abidin. Foto: Dok. Penulis.

Radioterapi merupakan salah satu pilar utama dalam pengobatan kanker modern yang menggunakan sinar energi tinggi untuk menargetkan dan menghancurkan sel kanker secara presisi. Pengobatan ini telah terbukti menyembuhkan atau setidaknya mengendalikan hingga 50% kasus kanker.

***

Kanker telah menjadi ancaman kesehatan global yang semakin serius. Menurut data GLOBOCAN terbaru tahun 2025, diperkirakan terdapat sekitar 20 juta kasus kanker baru di seluruh dunia, naik signifikan dari 19,3 juta kasus pada tahun 2020. Proyeksi yang lebih mengkhawatirkan menunjukkan bahwa pada tahun 2040, angka ini bisa melonjak hingga 28,4 juta kasus baru dengan 10 juta kematian akibat kanker setiap tahunnya.

Di Indonesia sendiri, situasi tidak kalah darurat dengan sekitar 400.000 kasus kanker baru setiap tahun yang menyebabkan 240.000 kematian, dan angka ini diprediksi meningkat 70% pada tahun 2050 jika tidak ada intervensi deteksi dini yang masif.

Di tingkat lokal, Aceh juga menghadapi tantangan serupa. Prevalensi kanker di Aceh mencapai 1,6 per 1.000 penduduk, setara dengan rata-rata nasional. RSUD Dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh sebagai pusat rujukan utama mencatat sekitar 40 pasien kanker per hari, dengan data lima tahun terakhir (2019-2023) menunjukkan 157 kasus kanker kandung kemih saja, belum termasuk kanker nasofaring yang mendominasi kanker kepala-leher di wilayah ini.

Sayangnya, Aceh masih bergantung pada rujukan ke Medan atau Jakarta karena belum memiliki fasilitas LINAC yang operasional penuh, meskipun gedung onkologi RSUDZA telah diresmikan.

Di sinilah urgensi radioterapi menjadi sangat krusial. Radioterapi adalah pengobatan standar pertama untuk kanker nasofaring yang radiosensitif, kanker serviks, dan prostat stadium awal dengan tingkat keberhasilan penyembuhan mencapai 85-95% pada stadium I-II.

Tanpa radioterapi, angka harapan hidup pasien stadium lanjut bisa turun di bawah 20%, sementara dengan terapi tepat waktu, survival 5 tahun bisa mencapai 70-90%. Penolakan rujukan yang mencapai 40% di daerah seperti Aceh memperburuk prognosis pasien, menjadikan edukasi dan akses radioterapi sebagai prioritas nasional.

Apa itu radioterapi?

Radioterapi pada dasarnya adalah penggunaan radiasi pengion, berupa sinar-X, sinar gamma, atau partikel proton berenergi tinggi untuk merusak DNA sel kanker. Radioterapi menggunakan dosis yang sangat terkontrol (biasanya 50-70 Gy) yang hanya difokuskan pada area tumor dengan presisi milimeter yang dirancang dengan bantuan komputer canggih, sehingga meminimalkan kerusakan pada jaringan sehat di sekitarnya.

Ada dua jenis utama radioterapi yang umum digunakan. Pertama, radioterapi eksternal atau EBRT yang paling banyak dipakai, di mana sinar radiasi pengion dipancarkan dari mesin teleterapi di luar tubuh pasien, baik itu mesin akselerator linier (LINAC) maupun emsin Cobalt-60. Radioterapi eksternal menggunakan berbagai teknik yang sangat tergantung spesifikasi alat yang digunakan, mulai dari 2D yang paling sederhana hingga teknik yang canggih dan kompleks.

Teknik modern seperti IMRT (Intensity-Modulated Radiation Therapy) dan VMAT (Volumetric Modulated Arc Therapy) menawarkan presisi luar biasa untuk kanker nasofaring, mengurangi kerusakan kelenjar air liur hingga 70% sehingga pasien tidak mengalami kering mulut permanen. Teknik lain seperti Helical Tomotherapy juga tersedia sebagai alternatif.

Kedua, radioterapi internal atau brachytherapy, di mana sumber radioaktif kecil ditempatkan langsung di dekat atau dalam tumor melalui applikator, memberikan dosis sangat tinggi secara lokal. Jenis ini ideal untuk kanker serviks dan prostat.

Di Indonesia, IMRT menjadi pilihan dominan karena efektivitasnya pada kanker nasofaring yang prevalensinya tinggi di Asia Tenggara (22-27 kasus per 100.000 pria).

Bagaimana Prosedur Radioterapi?

Prosedur radioterapi dirancang secara sistematis untuk memastikan keamanan dan efektivitas maksimal, dan pasien biasanya tidak memerlukan rawat inap sehingga bisa pulang setiap hari setelah sesi pengobatan.

Langkah pertama adalah initial assessment oleh dokter onkologi radiasi, yang meliputi evaluasi stadium kanker melalui CT scan, MRI, PET scan, dan biopsi, serta pemeriksaan fungsi organ vital seperti jantung, paru, dan ginjal. Pada tahap ini juga dilakukan diskusi informed consent terhadap pasien.

Selanjutnya adalah tahap simulasi. Pelaksanaan CT simulator khusus selama lebih kurang 15 menit untuk menentukan posisi pasti tumor, diikuti pembuatan masker atau topeng individual agar kepala atau tubuh pasien tetap diam selama pengobatan, serta penandaan titik referensi pada kulit.

Tim fisikawan medis kemudian menghabiskan 3-5 hari untuk perencanaan dosimetri menggunakan software canggih guna menghitung sudut sinar, intensitas, dan dosis optimal yang menghindari organ vital.

Tahap berikutnya adalah pengobatan atau delivery. Penyinaran umumnya berlangsung 15-20 menit per sesi, dilakukan 5 hari seminggu selama 3-7 minggu (total 30-35 sesi).

Pasien berbaring telentang di atas meja pengobatan, mesin LINAC berputar mengelilingi tubuh sambil memancarkan sinar, dan seluruh proses dipantau melalui CCTV dengan komunikasi dua arah. Setelah setiap sesi, pasien bisa langsung pulang. Follow-up dilakukan mingguan untuk memantau efek samping, dan 1-3 bulan pasca-terapi meliputi CT kontrol untuk mengevaluasi respons tumor serta penilaian kualitas hidup.

Efek Samping radioterapi

Efek samping radioterapi bersifat lokal sesuai dengan area yang diiradiasi dan umumnya bersifat sementara, muncul pada minggu ke-2 hingga 4 pengobatan, kemudian hilang dalam 1-3 bulan pasca-terapi. Sebanyak 90% pasien pulih sepenuhnya tanpa gangguan permanen berkat manajemen yang baik.

Untuk radioterapi nasofaring, efek paling umum adalah mukositis atau peradangan selaput lendir tenggorokan yang dialami 80% pasien, menyebabkan sakit menelan dan sulit makan, serta atau kering mulut pada 50% pasien.

Baca juga:

Pengelolaannya meliputi kumur madu lokal dicampur air garam, stimulan saliva seperti pilocarpine, dan nutrisi cair tinggi kalori. Efek pada kulit di area iradiasi berupa kemerahan atau gatal seperti sunburn dialami 70% pasien dan diatasi dengan krim aloe vera medis atau steroid topikal ringan.

Efek umum lain termasuk kelelahan sistemik pada 70% pasien yang diatasi dengan istirahat cukup dan diet tinggi protein, serta mual ringan pada 40% yang diberi obat antiemetik.

Efek jangka panjang seperti fibrosis jaringan atau risiko kanker sekunder sangat jarang dan dipantau melalui pemeriksaan tahunan. Pasien sering menyatakan bahwa manfaat penyembuhan jauh melebihi ketidaknyamanan sementara ini.

Manfaat Radioterapi

Manfaat radioterapi sangat signifikan baik secara kuratif maupun paliatif. Secara kuratif, radioterapi mampu menyembuhkan total kanker stadium awal I-II nasofaring dengan tingkat bebas kanker 5 tahun mencapai 85-95%, jauh lebih tinggi dibanding pengobatan lain.

Secara paliatif pada stadium lanjut III-IV, terapi ini mampu mengecilkan tumor sebesar 50-70% hanya dalam 2 minggu pertama, menghilangkan keluhan seperti sakit telinga kronis, hidung berdarah, atau kesulitan menelan sehingga pasien bisa makan dan beraktivitas normal kembali. Kombinasi dengan kemoterapi cisplatin bahkan meningkatkan survival dari 6-12 bulan menjadi 24 bulan atau lebih.

Sebagai terapi adjuvan, radioterapi mencegah kekambuhan setelah operasi dengan efektivitas tinggi, sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien yang bisa kembali beribadah, bekerja, atau berkumpul keluarga tanpa rasa sakit.

Keunggulan utamanya adalah non-invasif tanpa luka operasi, sangat cocok untuk lansia, anak-anak, atau pasien dengan kondisi fisik lemah, serta biaya efektif karena ditanggung BPJS. Kanker nasofaring yang sangat radiosensitif menjadikan radioterapi sebagai standar pengobatan NCCN baik sebagai monoterapi atau dikombinasi.

Penutup

Radioterapi merupakan salah satu pilar utama dalam pengobatan kanker modern yang menggunakan sinar energi tinggi untuk menargetkan dan menghancurkan sel kanker secara presisi. Pengobatan ini telah terbukti menyembuhkan atau setidaknya mengendalikan hingga 50% kasus kanker.

Radioterapi bukan hanya pengobatan medis, tetapi juga harapan nyata bagi jutaan pasien kanker di seluruh dunia untuk hidup lebih panjang dan bermakna. Kepada pasien kanker, segera lakukan pengobatan dan patuhi rujukan dokter onkologi tanpa ragu.

Dokter puskesmas dan praktik umum diharapkan aktif mengedukasi masyarakat tentang fakta radioterapi yang aman dan efektif dan terus mengedukasi masyarakat untuk deteksi dini. Bersama, kita wujudkan layanan kanker yang optimal bagi Masyarakat Aceh.

Artikel SebelumnyaMassa ASA Desak Pemerintah Aceh Tindak Tambang Ilegal Penyebab Banjir
Artikel Selanjutnya5 Alasan Anak Lebih Mudah Tidur di Motor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here