Prabowo, Ring Satunya & Masalah yang Timbul

Prabowo, Ring Satunya & Masalah yang Timbul
Zezen Zaenal Mutaqin, akademisi UIII, Depok. Foto: Dok. Penulis.

Sebagai orang yang hanya mengamati lewat media dan pemberitaan, juga obrolan warung kopi dan ngerumpi di kampus, saya melihat ada permasalahan di lingkaran terdekat Prabowo. Entah salahnya apa dan di mana. Tapi menurut saya soalnya mungkin ini: mereka terlalu muda. Ya, mungkin ini soal usia.

Prabowo tidak memiliki ring satu yang relatif sebaya dan bisa menjadi sparing partner dalam menggodok dan memasak ide-idenya untuk negeri. Karena terlalu muda, setiap ide Prabowo akan ditafsirkan langsung sebagai perintah.

Idenya adalah komando. Perintah yang tak bisa ditawar. Tugas mereka di lingkaran terdekat bukan mendiskusikan dan mempertimbangkan. Tapi melaksanakan. Baik atau buruk bukan soal.

Karena itu, tak jarang kita melihat kerancuan dan keanehan dalam pelaksanaan program-programnya. Mungkin program itu akan jauh lebih baik dan matang jika sebelum dilaksanakan dimasak dan digodok, diperdebatkan secara internal oleh Prabowo dan ring satunya. Kebijakan itu akan lebih terukur, realistis dan tidak ambisius.

Soal lain mungkin karena Prabowo adalah orang yang berada di puncak piramida. Usianya 73 tahun. Mungkin ia politisi aktif paling tua sekarang. Ia banyak makan garam. Jatuh berkali-kali. Bangun lagi. Jatuh lagi. Sampai kemudian jadi Presiden pada usia yang terbilang tua.

Baca juga: Prabowo Tunjuk Alumnus SMPN 3 Banda Aceh Jadi Sekjen Gerindra

Karena itu pula ia merasa paling tahu, paling bijak, paling berpengalaman. Hampir tak ada yang berani menjadi lawannya berdiskusi.

Fakta bahwa dia seorang jenderal tentu juga menjadi penentu gaya ia memimpin. “Siap laksanakan” adalah kata ajimat anak buah. Tak ada pertanyaan, apalagi otokritik dan protes. Tak mungkin perintah jenderal dibantah.

Karena permasalahan ini, misalnya, ide Makan Bergizi Gratis (MBG), ditafsirkan semata sebagai perintah. Ujungnya kurang bagus dalam pelaksanaan. Terlalu ambisius dan terburu-buru.

Kenapa tidak dimulai dengan studi mendalam dan proyek percontohan? Kenapa jumlahnya tidak diperkecil dengan kualitas makan yang ditingkatkan? Tidak masuk akal untuk makan bergizi vendor hanya diberi anggaran antara Rp. 10-15 ribu per porsi. Uang 350 triliun tersedot untuk program yang sekarang banyak menjadi olok-olok dan menimbulkan masalah seperti keracunan.

Ujug-ujug pula ada ambisi membuat 80 ribu koperasi merah putih! Dengan alokasi 3 milyar per koperasi. Butuh 240 triliun per tahun untuk proyek yang diilhami oleh gagasan ayahnya Prabowo itu.

Tapi soalnya sekarang sudah ada alokasi dana desa, juga BUMD. Tumpang tindih tentunya. Selain itu, dari mana duitnya?
Program Sekolah Unggulan Garuda, Sekolah Rakyat, pengadaan 3 juta rumah dan lain-lain juga menjadi masalah. Menteri keuangan yang pusing tujuh keliling untuk mengalokasikan dana yang terbatas.

Akibatnya pajak dinaikan diam-diam di banyak daerah. Penghematan dimana-mana. Infrastruktur mandek. Efisiensi program non-unggulan berakibat jatuh domino pada kelesuan ekonomi.

Kita tahu ekonomi di Indonesia masih state-driven (didorong program pemerintah). Ketika terjadi efisiensi, seluruh rantai ekonomi tumbang. Rakyat kecil paling bawah yang selalu menjadi korban. Rakyat menjerit.

Kalau orang di lingkaran satu sebaya usianya, hampir sama pengalamannya, mungkin akan lain cerita. Setidaknya akan ada orang yang secara jujur berkata hal yang berbeda dalam diskusi kecil di ruang istana.

Gagasan itu harus dibenturkan dan diperdebatkan. Diuji. Apalagi ini untuk hajat hidup 280 juta orang di seluruh negeri. Tak bisa ide dan mimpi seseorang tiba-tiba jadi kebijakan tanpa diperdebatkan secara sengit dan sungguh-sungguh.

***Zezen Zaenal Mutaqin, akademisi UIII, Depok. Disalin dari timeline Facebook.

Artikel SebelumnyaPengemudi Ojol Affan Kurniawan Dimakamkan Diiringi Tangisan
Artikel SelanjutnyaIni Hasil Seleksi Akhir 11 JPT Pratama Pemko Lhokseumawe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here