
Komparatif.ID, Banda Aceh— Direktur Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Bappenas, Endang Sulastri, menyebut 42 persen penduduk Aceh kelompok usia 19-24 tahun mendapatkan pendidikan tinggi.
Angka partisipasi pendidikan tinggi di Aceh sendiri lewati target nasional yaitu 42 persen. “Meski Aceh telah mencapai target, masih ada 19 provinsi yang angkanya di bawah rata-rata nasional,” ujar Endang pada Studium General di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, Rabu, (23/7/2025).
Angka Partisipasi Pendidikan Tinggi (APK PT) merupakan indikator yang mengukur tingkat partisipasi penduduk yang mendapatkan pendidikan tinggi. APK PT merupakan rasio antara jumlah mahasiswa, tanpa memandang usia, dengan jumlah penduduk usia 19-24 tahun, yang merupakan kelompok usia umum untuk pendidikan tinggi.
Menurut Endang, angka tersebut mengacu data dari Badan Pusat Statistik (BPS) terbitan 2024. Ia menyebut masih terdapat 19 provinsi lain di Indonesia yang angka partisipasinya belum menyentuh rata-rata nasional.
Meski demikian, Endang mengingatkan capaian partisipasi ini belum berbanding lurus dengan kualitas lulusan. Ia menyampaikan pada 2024, Indonesia hanya mampu menghasilkan lulusan perguruan tinggi sebesar 10 persen dari total populasi usia produktif.
Baca juga: Tes Kemampuan Akademik: Harapan Baru untuk Pemerataan Mutu Pendidikan Daerah
Endang menekankan peningkatan kualitas lulusan harus menjadi prioritas berikutnya. Ia menyebut program studi di perguruan tinggi ke depan perlu diselaraskan dengan kebutuhan industri dan sektor prioritas nasional, seperti industri halal, pertanian cerdas, dan pariwisata.
Ia menilai UIN Ar-Raniry memiliki potensi kuat dalam bidang riset sosial humaniora, termasuk studi karakter, pendidikan, komunikasi, dan keuangan Islam. Untuk bisa bersaing di kancah global, menurutnya, UIN Ar-Raniry perlu memperkuat citra risetnya secara strategis.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Bappenas, Amich Alhumami, menambahkan perguruan tinggi Islam di Indonesia harus mampu merespons tantangan globalisasi dan modernisasi tanpa kehilangan akar budaya dan nilai-nilai Islam.
Menurutnya, universitas Islam harus melahirkan lulusan yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga memiliki integritas, penguasaan sains dan teknologi, serta kesadaran nilai-nilai keislaman.
Amich juga menggarisbawahi pentingnya investasi dalam bidang riset. Ia mengungkapkan rata-rata negara mayoritas muslim hanya mengalokasikan 0,42 persen dari produk domestik bruto (PDB) untuk riset, jauh tertinggal dari Amerika Serikat yang mencapai 3,46 persen, apalagi Israel yang menyentuh angka 5,56 persen.
“Rata-rata investasi riset di negara Islam hanya 0,42 persen dari PDB. Bandingkan dengan Amerika Serikat 3,46 persen atau Israel yang mencapai 5,56 persen,” paparnya
Rendahnya investasi ini berdampak langsung pada jumlah peneliti, negara-negara Islam hanya memiliki sekitar 556 peneliti per satu juta penduduk. Sebagai perbandingan, Korea Selatan memiliki lebih dari 9.000 peneliti per satu juta penduduk.
Indonesia, menurut Amich, masih berada pada posisi menengah dengan sekitar 1.600 peneliti per satu juta penduduk. Angka ini masih jauh di bawah Singapura yang memiliki 4.000 peneliti, atau Korea Selatan yang mencapai 8.000.
“Saat ini Indonesia baru memiliki 1.600 peneliti per satu juta penduduk. Singapura punya 4.000, sedangkan Korea Selatan 8.000,” ujarnya.