66 telah menjadi merek sirop dan limun paling diingat masyarakat Bireuen sejak 1990-an. Stroop 66 pernah mengalami pemalsuan besar-besaran pada era 2000-an, yang membuat pamornya redup.
Merah selalu unggul. Demikian juga dalam keluarga sirop 66 yang diproduksi Perusahaan Syrup Dardanilla 66 yang beralamat di Bireuen, Aceh. Stroop manis rasa pisang ambon –warna merah– menjadi varian paling diingat publik, meski Dardanilla 66 juga memproduksi sirop rasa asam yang diwakili warna orange, kuning, dan hijau.
Mengapa orang Bireuen menyebut sirop –khusus minuman– dengan sebutan sitrôp, ya karena tulisan stroop manis pada kemasan botol kaca 66.
Stroop manis warna merah bukan saja digemari oleh mereka yang bermukim di Bireuen, tapi juga disukai oleh orang Bireuen yang merantau ke Sumut. Tak jarang, mereka yang telah menetap di Sumut, meminta keluarga mengirimkan stroop 66.
Stroop 66 merupakan produksi home industry keluarga Tionghoa di Bireuen. Ya seperti Stroop Mawar di Matangglumpangdua di Peusangan, industri sirop manis di Aceh, umumnya dikelola oleh keluarga Tionghoa.
Baca juga: Merindui Boh Usen Kembali ke Meja Tamu
Stroop 66 merupakan minuman kelas menengah. Siropnya encer, tapi tetap manis.
Dulu botol sirop merahnya sama persis dengan botol sirop Kurnia–stroop cap patung- yang terkenal se-antero Sumatra. Tapi seiring waktu, botolnya sering menggunakan botol bekas sirop lain yang lebih ramping.
Era 90-an hampir semua rumah menyediakan sirop 66 di rumahnya pada Lebaran. Demikian juga sepanjang Ramadan, sirop tersebut menjadi pemasok rasa manis pada minuman mentimun kerok, dll.
Ketika eskalasi konflik mencapai level krusial era 2000-an, rasa sirop tersebut menurun drastis. Yang manis tak lagi manis, yang masam kurang asamnya. Banyak pemilik warkop yang kecewa dan kemudian me-return sirop ke agen pengecer.
Saya menduga penurunan kualitas rasa karena praktek jahat industri kuliner; pemalsuan. Di tengah konflik bersenjata, saya duga pemilik 66 tidak berdaya.
Di tengah kekecewaan terhadap perubahan rasa, sirop ABC dan Pohon Pinang mengisi ruang kosong. Muncullah rasa dengan varian lebih banyak. Mulai rasa leci, markisa, dan lain-lain.
Sirop Kurnia mendominasi khazanah stroop manis. Karena Kurnia merupakan sirop premium, harga jualnya per gelas di warkop juga lebih tinggi. Lidah warga yang awalnya akrab dengan pisang ambon, berganti dengan manisnya raspberry.
Beberapa tahun setelah gempabumi dan tsunami Aceh, Dardanilla 66 kembali hadir ke berbagai sudut pasar, dengan rasa yang telah pulih. Ia hadir dengan segenap upaya merebut kembali sisa-sisa cinta dan kenangan di lidah konsumen lama.
Stroop 66 tetap sebagai sirop kelas menengah. Saat ini harganya Rp10.000 per botol. Kurnia Rp24.000 per botol. Ada perusahaan sirop lainnya mencoba mengisi ruang tarung dengan harga lebih murah, Rp20 ribu tiga botol, bebas memilih rasa.
Pada Idulfitri 1446 H, saya sudah menyeruput satu gelas sirop 66 rasa pisang ambon. Rasanya masih otentik seperti sebelum dipalsukan; manis dan segar. Bila dicampur dengan es, rasanya semakin maknyus. Selamat datang kembali wahai sirop legendaris. I love you.